Beranda / Davika News / Lampung Selatan / Petani Cabai Lampung Selatan Dibebani Harga Saprotan Tinggi

Petani Cabai Lampung Selatan Dibebani Harga Saprotan Tinggi

3 2

Lampung Selatan, 13 Mei 2026 – Petani cabai di Kabupaten Lampung Selatan mengeluhkan mahalnya harga sarana produksi pertanian (saprotan) seperti plastik mulsa, pupuk, dan obat-obatan pertanian yang menyebabkan biaya produksi terus meningkat. Keluhan ini muncul di tengah ketidakstabilan harga cabai di tingkat petani saat musim panen tiba.

Kenaikan harga saprotan dirasakan langsung oleh para petani cabai di sejumlah wilayah sentra pertanian di Lampung Selatan. Biaya budidaya yang semakin tinggi dinilai tidak sebanding dengan harga jual cabai yang kerap turun drastis saat panen raya.

1 2 1024x576

Suryanata, salah seorang petani cabai di Dusun Sumbersari, Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, mengatakan bahwa kenaikan harga plastik mulsa, pupuk, hingga obat-obatan pertanian membuat ongkos produksi membengkak.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memberatkan petani karena harga cabai di tingkat petani sering mengalami penurunan saat hasil panen melimpah. Akibatnya, margin keuntungan petani semakin menyempit dan bahkan berisiko mengalami kerugian.

2 2 1024x576

“Biaya untuk beli mulsa, pupuk, dan obat-obatan sekarang mahal semua. Sementara harga cabai saat panen sering turun, jadi hasil yang didapat tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan,” ujar Suryanata.

Kondisi ini membuat sebagian petani terpaksa mengurangi penggunaan pupuk dan obat-obatan untuk menekan biaya produksi. Namun langkah tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada menurunnya kualitas maupun kuantitas hasil panen cabai.

Para petani berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat membantu menstabilkan harga sarana produksi pertanian serta menjaga harga cabai di tingkat petani agar tidak merugikan saat musim panen berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *